Close

Sejarah dan Budaya sup konro

Sejarah dan  Budaya sup konro
  • PublishedNovember 26, 2025

Sejarah dan Resep Sop Konro, Kuliner Khas Makassar

 

 

 

 

sentral-bisnis-Sop konro adalah salah satu ikon kuliner tertua di Sulawesi Selatan, khususnya

 masyarakat Bugis-Makassar. Nama “konro” sendiri berasal dari bahasa Bugis-Makassar yang berarti “iga sapi” (konro = tulang rusuk/iga).

Jadi secara harfiah, sop konro = sup iga sapi

 
Asal-Usul: Hidangan Istana Kerajaan Gowa
 
Menurut cerita lisan yang masih hidup di kalangan keluarga bangsawan Gowa dan para sesepuh kuliner Makassar,
 
sop konro awalnya adalah hidangan khusus keluarga kerajaan Gowa pada abad ke-16 sampai ke-17.
 
Pada masa itu, iga sapi adalah bagian yang paling sulit dimasak karena keras dan banyak urat. Hanya juru masak istana
 
yang punya waktu berjam-jam untuk merebusnya perlahan bersama rempah-rempah impor (cengkeh, pala, kayu manis, kapulaga)
 
bumbu yang lebih “kerajaan Makassar”. 
 
Dari Istana ke Rakyat (Abad 20)
Setelah Kerajaan Gowa runtuh tahun 1669 dan masuknya Belanda, resep konro perlahan “turun gunung”.
 
Pada tahun 1930–1950-an, mulai bermunculan warung-warung sop konro di sekitar pelabuhan Paotere dan di Jalan Somba Opu.
 

Sop Konro Haji Noordin (sekitar 1950-an) – dianggap sebagai “konro rakyat” pertama yang pakai kuah coklat bening

(bukan hitam pekat) agar lebih terjangkau.

Sop Konro Daeng Naba (1960-an) – sampai sekarang masih pakai tungku arang dan resep turun-temurun.

Makna Budaya & RitualSampai sekarang sop konro masih punya tempat istimewa dalam berbagai
ritual adat Makassar:

Accera Kalompoang (ritual penyucian benda pusaka kerajaan): selalu ada konro sebagai sesajen.

Aqiqah & pernikahan: konro jadi simbol kemakmuran karena daging sapi dulu sangat mahal.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *